Yogyakarta, 2 Agustus 2019
Ini merupakan pendakian aku dan kawan-kawan untuk yang
ke sekian kalinya untuk menaklukkan puncak-puncak yang ada di pulau jawa. Berawal
dari ke mumetan akan pekerjaan yang nggak kunjung selesai, ditambah perkuliahan
pada waktu itu yang sedang cukup gila aku putuskan untuk mencoba menjauh dari
dunia dan sekedar mencoba untuk mencintai alam semesta dengan melakukan
pendakian ke puncak sindoro. Hari itu adalah hari jumat dimana pendakian kali
itu hanya diputuskan anatar jadi atau tidak cukup dengan 2 hari ketika 2 dari 3
teman pendakian kali itu sedang balik ke jogja karena sedang libur masa
studinya. Teman ku itu berkuliah di UNJ dan yang satunya di STIS. Sedang kawanku
yang satunya adalah mahasiswa UPN Yogykarta. Kami berempat merupakan kawan
sejak kami masih ber sekolah di salah satu sekolah di Yogykarta.
Kami putuskan
awal pendakian dan berangkat dari jogja di hari jumat setelah sholat jumat agar
ketika kami sampai ke Jogja Kembali masih ada hari untuk istirahat sebelum
masuk ke hari kerja lagi (pendakian kami biasanya 2 hari 1 malam). Persiapan
kami sebenarnya cukup sederhana dengan mencoba membuat list bawaan pada hari
kamis, dan meminjam beberapa alat di hari itu dan kami lengkapi di hari
berikutnya jumat pagi. Alat-alat cukup aman karena kami emang sering untuk naik
gunung secara rutin, dan kami adalah anggota sispala pada saat kami masih SMA dulu.
Persiapan paling lama adalah ketika kami mencoba membagi barang bawaan apa saja
yang harus dibawa di antara tas carrier yang kami bawa. Aku putuskan membawa
barang paling banyak karena secara fisik memang teman-temanku setelah lulus SMA
memiliki tubuh yang makin gempal dan aku merasa pada waktu itu tubuhku cukup
fit untuk membackup mereka hhehehe, saat itu memang aku juga masih rajin untuk
nge gym dan juga rutin jogging setiap minggunya jadi secara fisik emang siap.
13:00
Selepas sholat jumat kami bersiap di salah satu rumah
kawan kami yang ada di daerah pakem. Kami putuskan berkumpul disanan karena
secara letak rumah kami berempat memang yang paling mendekati Sumbing adalah
rumahnya (padahal ini dalam rangka untuk mencari makan siang gratis dan bekal
uang dari ibuknya kawanku itu). Diluar dugaan kami malah menghabiskan waktu
terlalu lama di rumah temanku itu, yaa itu tadi kami disuguhkan makan dulu dan diberikan beberapa wejangan sebelum kami
berangkat). Perjalanan dari rumah kawanku tersebut menuju ke Sumbing sekitar 3
jam an kurang lebih. Kami berangkat dari Yogyakarta pada waktu itu pukul 15:15
selepas sholat ashar kami langsung berangkat berbocengan naik motor dengan 2
motor varioku dan temanku. Di perjalanan sebenarnya cenderung biasa saja,
karena emang kami sering melalui jalan magelang hingga ke daerah wonosobo untuk
mendaki beberapa gunung disana seperti Sindoro, Prau, Merbabu, Merapi dan
lain-lain. Tenang akan aku ceritakan nanti satu persatu. Ditengah perjalanan ketika
Magrib kami mampir sebentar untuk istirahat sekaligus sholat. Aku ingat kami
berhenti di sekitar jalan perbatasan Magelang dengan Temanggung. Mungkin sudah
masuk temanggung. Masjid hijau di pinggir jalan. Cerita yang paling menyebalkan
disini adalah kawanku yang dari STIS tadi malah buang air dan kami malah
berhenti lama disana.
18:30
Long
story short asyikk, sok nginggris,
jadi setelah istirahat sebentar itu aku langsung tuh lanjut, karena emang sudah
cukup larut ya pada waktu itu dan cuaca sudah mulai dingin kalau kita berhenti
terlalu lama malah jadi mager hehehe. Perjalanan sudah mulai tuh ketemu
beberapa truk dan jalanan mulai naik-naik. Berdasarkan plang di pinggir jalan
kami memang sudah masuk ke daerah parakan tempat dimana basecamp pendakia
gunung sumbing ada. Oiya kami mendaki melewati jalur pendakian via Garung. Itu terletak
tepat di perbatasan Temanggung dan Wonosobo. Jalur ini dinilai cukup indah dan
enak karena selain viewnya yang indah pendakian nggak terlalu curam meskipun
perjalanan cukup panjang dan menghabiskan waktu 8-10 jam pendakian. Setelah kami
sampai di posko pendakian, bagiku sendiri posko ini merupakan posko yang paling
baik karena semua peraturannya benar-benar strik terutama mengenai sampah. Setiap
barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah di tulis dan ketika Kembali harus
dilaporkan dan apabila menemui jumlah yang berbeda artinya kita membayar denda
yang cukup lumayan.
20:15
Kami sampai
di posko garung sekitra pukul 8 malam. Kami langsung siap-siap sekaligus
membeli sarung pada waktu itu yang memang diwajibakan di pendakian ini karean
memang pada waktu kami mendaki adalah momen paling dingin di daerah tersebut
dan bahkan bisa minus ketika dini hari. Okey kami putuskan untuk segera naik
jalan saja. Perjalanan menuju pos 1 merupakan hal yang paling asyik karena di
pendakian ini terdapat fasilitas ojek yang bis akita sewa untuk menuju pos 1
pendakian. Dan kalau kalian juga melihat youtube dari dzawin, ojek ini cukup
gila karena di tengah jalan yang naik dan berjurang kecepatan dari motor ini sengeja
dibuat untuk ngebut dan cukup ngeri-ngeri sedap yaa ini. (bisa kalian liat di
yt dzawin tersebut). Ditambah dengan gelap malam dan udara yang dingin cukup,
ditambah aroma tembakau yang ditanam di sekitaran jalan menambah keseruan
pendakian ini. Oiya kalian hanya cukup membayar 25 ribu kalau nggak salah buat
bisa naik ojek tersebut. Tapi ini lumayan banget daripada haru jalan karena bisa
memotong waktu jalan sekitar 2 jam. Dengan ojek tersebut kita hanya perlu waktu
20 menit untuk sampai pos 1.
21:00
Pos 1,
kami memutuskan untuk jalan dari basecamp sekitar pukul 9 kurang seperempat dan
kami sampai di pos 1 pukul 9 kurang lebih. Tanpa bas abasi sebelum udara yang
terlanjur dingin pula kami putuskan untuk lanjut jalan lagi menuju ke lokasi
camping ground di pos 4. Tulisan perjalannya aku lanjut di post selanjutnya yaa…
see you


No comments:
Post a Comment